JASA Bireuen Buka Ruang Kaderisasi Politik, Tiga Kader Muda Disebut Potensial
BIREUEN, AKTUAL86.COM — Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Bireuen, Mauliadi, S.H., memberikan tanggapan, Rabu (23/9/2026), terkait isu politik yang dalam beberapa hari terakhir berkembang di kalangan elite politik Kabupaten Bireuen.
Mauliadi menyebutkan, terdapat sejumlah kader muda JASA Bireuen yang mulai
menjadi perhatian dan diperbincangkan dalam dinamika politik daerah.
Menurutnya, setidaknya ada tiga kader yang dinilai memiliki potensi untuk
berkiprah lebih luas di ruang publik dan politik.
Ketiga nama tersebut yakni Muhammad
Saleh, Muhammad Amin,
dan Syawal Fitra.
Mauliadi menjelaskan, Muhammad Saleh atau yang akrab disapa Abu Alfie merupakan putra almarhum
Abon Abdullah, dikenal sebagai Kadhi
Negara Aceh Merdeka. Abu Alfie saat ini dipercaya sebagai Juru Bicara JASA
Kabupaten Bireuen wilayah Batee Iliek.
“Abu Alfie merupakan kader muda yang memiliki pemahaman agama dan politik.
Selama ini ia juga aktif dalam kegiatan organisasi dan dinilai memiliki
karakter serta komitmen dalam memperjuangkan kepentingan anak syuhada,” ujar
Mauliadi dalam keterangannya.
Sementara itu, Muhammad Amin
merupakan kader yang membidangi Bidang
Agama, Adat dan Istiadat JASA Bireuen. Ia disebut memiliki
perhatian terhadap penguatan nilai-nilai keislaman serta pelestarian adat dan
budaya Aceh, khususnya di kalangan generasi muda.
Nama berikutnya adalah Syawal Fitra,
yang disebut menjabat sebagai Wakil
Sekretaris Jenderal DPW JASA Bireuen. Menurut Mauliadi, Syawal
merupakan kader muda yang aktif dan memiliki jaringan di kalangan generasi
muda.
“Ketiganya merupakan kader yang saat ini kami lihat memiliki potensi untuk
berkembang. Mereka adalah bagian dari generasi penerus yang diharapkan mampu
melanjutkan perjuangan melalui pendidikan, akhlak, gagasan dan kerja nyata,”
katanya.
Mauliadi menegaskan bahwa JASA Bireuen tidak menutup ruang bagi kadernya
untuk terlibat dalam politik. Menurutnya, kaderisasi politik merupakan salah
satu ruang yang dapat ditempuh anak-anak syuhada untuk berkontribusi dalam
kehidupan bermasyarakat dan pemerintahan.
“JASA Bireuen tidak alergi terhadap politik. Kami membuka ruang kaderisasi
politik bagi anak-anak syuhada. Harapannya, ke depan ada kader yang mampu
mengambil bagian dalam lembaga legislatif maupun ruang-ruang pengambilan
kebijakan, sehingga kepentingan korban konflik dan masyarakat Aceh dapat
diperjuangkan melalui jalur yang bermartabat,” ujar Mauliadi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pembicaraan mengenai arah politik maupun
kemungkinan penugasan terhadap kader tertentu belum menjadi keputusan resmi organisasi.
Karena itu, Mauliadi meminta agar isu mengenai arah politik ketiga kader
tersebut tidak dipahami sebagai keputusan final JASA Bireuen.
“Untuk arah politik ketiga kader tersebut, saya belum dapat memberikan
tanggapan yang pasti. Sampai saat ini belum ada keputusan resmi terkait
penugasan politik. Hal tersebut harus dibahas terlebih dahulu melalui mekanisme
organisasi dan musyawarah di tingkat DPP JASA Aceh,” katanya.
Ia menambahkan, setiap keputusan organisasi terkait penugasan politik kader harus dilakukan secara kolektif dan tidak didasarkan pada keputusan perseorangan.
Mauliadi juga menegaskan bahwa dinamika politik tidak boleh mengganggu
konsolidasi internal organisasi. Menurutnya, JASA Bireuen tetap menempatkan
kepentingan anak syuhada dan keberlanjutan perjuangan pascakonflik sebagai
perhatian utama.
“JASA Bireuen tetap solid. Kami akan terus fokus pada perjuangan menjaga
martabat anak syuhada, memperkuat kaderisasi dan mendorong generasi muda agar
mampu berkontribusi secara positif bagi masyarakat dan Aceh,” ujarnya.
Ia berharap dinamika yang berkembang saat ini dapat disikapi secara bijak
dan tidak menimbulkan kesimpulan prematur mengenai sikap politik organisasi.


Posting Komentar