Tren Medsos Bikin Pendaki “Gila Summit”, Malaysia Kini Perketat Aturan Pendakian Gunung
Aktual86.com - Bayangkan: kamu sudah pakai baju hiking terbaru, kamera siap merekam momen epik di puncak, dan otak sudah membayangkan caption keren di Instagram. Tapi di Malaysia, mimpi “one-day summit” atau “kilat challenge” itu kini semakin sulit diwujudkan.
Pihak berwenang Malaysia memperketat aturan pendakian setelah lonjakan kasus orang hilang dan operasi pencarian-penyelamatan (SAR) yang memakan biaya besar. Banyak pendaki, terutama pemula, terpengaruh tren media sosial: ingin menaklukkan sebanyak mungkin puncak dalam waktu singkat, mencari sudut foto paling ekstrem, atau membuktikan diri lebih keren dari konten yang viral.
Hasilnya? Antara 2021–2025 tercatat 1.059 kecelakaan pendakian, termasuk 63 kematian. Hanya dalam lima bulan pertama 2026 saja, sudah ada 52 kasus pendaki tersesat yang melibatkan 114 orang—naik hampir 30 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Apa saja aturan barunya?
- Larangan pendakian sehari atau “kilat” di banyak jalur berisiko tinggi.
- Kewajiban menggunakan Pemandu Gunung Perhutanan (MGP) di 189 lokasi yang dikategorikan berbahaya.
- Pemeriksaan kesehatan mandiri, asuransi khusus kegiatan luar ruangan, dan izin yang lebih ketat.
- Durasi minimal diperpanjang: jalur yang dulu bisa digas dalam 24 jam kini wajib ditempuh 3–5 hari.
Contohnya di Perak, jalur Trans Spencer Chapman (tempat Jaslinda Saludin sempat hilang hampir dua minggu) sekarang wajib minimal lima hari. Jalur-jalur “trans” lain seperti Trans Beratih, Trans Slim, hingga Trans CBR di Johor juga ikut terdampak.
Bagi pendaki seperti Nur Fatin Amira, kreator konten asal Sabah, aturan ini berarti cuti tahunan harus dihitung ulang dan biaya naik. Tapi ia dan banyak anggota komunitas pendaki justru menyambut baik. “Keselamatan lebih penting daripada konten,” tegasnya.
Operator tour seperti X-Trekkers mengakui biaya paket kemungkinan naik, tapi mereka menilai itu “harga kecil untuk keselamatan yang lebih baik.” Sementara pemandu gunung mengeluhkan pendaki yang terlalu fokus mengejar foto sempurna hingga mengabaikan peringatan tubuh atau instruksi pemandu.
Media sosial memang berhasil mengajak lebih banyak orang ke alam. Tapi di sisi lain, ia juga menciptakan “demam puncak” dan anggapan keliru bahwa jalur tertentu “mudah” hanya karena terlihat mudah di video.
Pesan dari komunitas pendaki Malaysia sederhana:
Mendaki bukan perlombaan. Tidak ada foto atau video yang sepadan dengan nyawa. Rencanakan dengan matang, ikuti aturan, dengarkan pemandu, dan selalu utamakan keselamatan.
Karena gunung akan tetap di sana. Yang penting, kamu bisa pulang dengan selamat untuk mendaki lagi.
Sumber: CNA Indonesia – [Imbas tren medsos? Mengapa Malaysia perketat aturan pendakian dan apa dampaknya bagi pendaki](https://www.cna.id/asia/malaysia-aturan-pendakian-gunung-medsos-49996)




Posting Komentar