Di Balik Viral dan Ribuan Like: Ketika Akhlak Remaja Diuji di Era Media Sosial
Oleh: Tgk Muhammad, S.Pd., M.Pd., C.PS., C.HL (Sekretaris PC GP Ansor Pidie Jaya)
Aktual86.com , Media sosial hari ini bukan lagi sekadar tempat berbagi cerita, tetapi telah menjadi ruang kehidupan baru bagi generasi muda. Hampir setiap hari, jutaan anak muda menghabiskan waktunya di ruang digital untuk mencari informasi, berkomunikasi, mengekspresikan diri, hingga membangun identitas.
Di satu sisi, perkembangan teknologi membawa banyak manfaat. Media sosial dapat menjadi jembatan ilmu pengetahuan, sarana dakwah, ruang kreativitas, serta wadah bagi anak muda untuk menunjukkan prestasi dan karya terbaiknya.
Namun di sisi lain, dunia digital juga menghadirkan tantangan besar, terutama terhadap pembentukan karakter dan akhlak generasi muda.
Fenomena mengejar viral, jumlah like, komentar, dan pengikut terkadang membuat sebagian remaja lupa bahwa tidak semua perhatian publik harus dikejar. Ada yang rela membuat konten berlebihan, menggunakan bahasa yang tidak pantas, membuka aib orang lain, bahkan melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai agama dan budaya hanya demi mendapatkan pengakuan.
Inilah persoalan besar zaman sekarang: ketika ukuran keberhasilan mulai bergeser. Sebagian orang merasa dihargai ketika videonya viral, tetapi lupa bahwa kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya pengikut, melainkan oleh ilmu, akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.
Jangan sampai generasi muda memiliki ribuan pengikut, tetapi kehilangan rasa hormat kepada orang tua. Jangan sampai terkenal di dunia maya, tetapi tidak memiliki adab dalam kehidupan nyata.
Viralitas hanyalah sementara, tetapi akhlak adalah nilai yang melekat sepanjang kehidupan.
Media sosial sebenarnya bukan musuh yang harus dijauhi. Teknologi adalah alat, dan nilai manfaatnya sangat bergantung kepada siapa yang menggunakannya. Jika digunakan dengan bijak, media sosial dapat menjadi ladang kebaikan. Anak muda dapat menyebarkan ilmu, memperkenalkan budaya Aceh, mempromosikan karya, serta menghadirkan pesan-pesan positif kepada masyarakat luas.
Namun, jika digunakan tanpa kendali, media sosial dapat menjadi ruang yang merusak karakter. Jempol yang tidak dikendalikan oleh akal dan hati dapat melahirkan perkataan yang menyakiti, fitnah, penghinaan, bahkan permusuhan.
Karena itu, generasi muda harus memiliki kecerdasan digital. Tidak semua yang ramai dibicarakan harus diikuti. Tidak semua yang mendapatkan banyak like berarti benar. Tidak semua yang viral pantas dijadikan contoh.
Kemampuan memilih, menyaring, dan mempertanggungjawabkan setiap unggahan adalah bagian dari akhlak di era digital.
Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam pendidikan agama, tradisi dayah, dan budaya yang menjunjung tinggi nilai kesopanan, tentu memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga karakter generasi mudanya.
Nilai-nilai seperti menghormati guru, memuliakan orang tua, menjaga lisan, dan menghargai sesama harus tetap menjadi pedoman, meskipun zaman terus berubah.
Dalam menghadapi era digital, peran orang tua, guru, ulama, teungku, dan masyarakat sangat diperlukan. Anak muda tidak cukup hanya diberikan akses teknologi, tetapi juga harus dibekali nilai moral agar mampu menggunakan teknologi dengan penuh tanggung jawab.
Kita tidak ingin melahirkan generasi yang hanya mengejar popularitas, tetapi kehilangan identitas. Kita ingin generasi yang mampu berdiri di dunia digital dengan tetap membawa nilai-nilai agama, budaya, dan kemanusiaan.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang karena berapa banyak jumlah like yang pernah diperoleh, tetapi karena seberapa besar manfaat yang pernah diberikan.
Jadilah generasi yang bukan hanya terkenal karena viral, tetapi dihormati karena ilmu, dijaga karena akhlak, dan dikenang karena manfaatnya.
Karena dunia boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi akhlak tetap menjadi ukuran utama kemuliaan manusia.


Posting Komentar